Genosida Mengerikan Dibalik Pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels

Media_http1bpblogspot_yfgii


“Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain,” tulis Pramoedya Ananta Toer. Hal ini memang tidak bisa dipungkiri. Mengingat begitu lamanya negeri kita ini dijajah bangsa lain. Sekitar 350 dijajah Belanda, 3,5 tahun dijajah Jepang dan, diantaranya itu datang juga Inggris dan Portugis yang menjajah. Lengkap sudah penderitaan bangsa pada waktu itu. Salah satu penjajahan paling kejam adalah pada saat Herman Willem Daendels (1762-1818) ditugaskan menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Gubernur Jendral Daendels memang menakutkan. Ia kejam, tak kenal ampun. Pada masa pemerintahannya yang tergolong singkat, hanya dalam setahun saja (1808) berhasil membuat “prestasi besar” yaitu “membangun” jalan sepanjang raya 1.000 kilometer yang membentang mulai dari Anyer, Banten sampai Panarukan Jawa Timur.

Pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels tersebut yang pengerjaannya secara paksa telah menorehkan tragedi memilukan sebagai peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan. Tidak ada data yang jelas mengungkap berapa korban jiwa pada peristiwa ini. Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang, itu yang tercatat. Tapi diyakini jumlah korban lebih besar dari itu, yang jelas puluhan ribu sudah nyawa melayang karena kerjapaksa demi ambisi Daendel. Ini terhitung tragedi terbesar sepanjang sejarah di Tanah Hindia Belanda ini.

Read the rest of this post »

Filed under  //   Lentera Dipantara   Pramoedya Ananta Toer   Roman   Sejarah  

Road to The Empire

Media_http1bpblogspot_arsce


Ambisi Jenghiz Khan menguasai dunia dengan melakukan berbagai cara seperti pembunuhan biadab sudah masuk dalam catatan sejarah. Siapa mengira bahwa Jenghiz Khan yang pernah membantai ribuan umat Islam di Timur Tengah, keturunannya sendiri ada yang menjadi muslim. Dia adalah Takudar Khan, anak dari Kaisar Mongolia Tuqluq Timur Khan. Kaisar Tuqluq tertarik dengan Syaikh Jamaluddin yang berkharisma dan membuat perjanjian yang diteruskan kepada anak-anak mereka yaitu Rasyiduddin dan Takudar.

Takudar adalah putra ke satu Tuqluq Khan yang mempunyai adik yaitu Argun Khan dan Buzun. Ketika Tuqluq dikhianati dengan membunuhnya beserta permaisuri, Arghun Khan menggantikan kedudukan ayahnya menjadi kaisar yan berambisi seperti Jenghiz Khan atas bantuan orang kepercayaannya Albuqa Khan. Sementara itu Takudar Khan melarikan diri bersama pembantunya dan belajar di pesantren Baabussalam.

Read the rest of this post »

Filed under  //   Islam   Jenghiz Khan   Lingkar Pena   Roman   Takudar Khan  

One Thousand and One Arabian Nights

Media_http3bpblogspot_xidfo

Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal : viii + 314 hal
Kategori : Roman Fiksi
Harga : Rp. 62.800

One Thousand and One Arabian Nights atau di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Kisah Seribu Satu Malam merupakan kisah yang sangat populer. Kisah ini sepertinya sudah bukan milik bangsa Arab dan Persia lagi, melain milik dunia. Kisah ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan bahkan dalam beberapa versi dan bentuk bacaan. Salah satunya adalah buku karya Geraldine McCaughrean yang diklaim merupakan kisah versi asli dan lengkap dari Arabian Nights.

Buku ini menceritakan tentang Raja Shahryar yang membunuh setiap istri barunya setiap malam, sebelum dia bisa berhenti mencintainya. Tapi ada seorang istri baru bernama Shahrazad yang memiliki rencana cerdik untuk menyelamatkan dirinya. Ketika akan dibunuh, Shahrazad menceritakan kisah menarik tentang Sinbad si Pelaut. Pembunuhan terhadapnya pun diurungkan. Dia kemudian meneruskan menceritakan kisah-kisah menarik tiap malam yang membuat Raja Shahryar tertarik. Tanpa sadar, sang Raja selalu menunda eksekusi yang akan dilakukannya pada Shahrazad. Nah, apa saja kisahnya? Mungkin Anda juga akan selalu tertarik untuk membaca buku ini sampai selesai.

Filed under  //   Elex Media Komputindo   Roman  

About

Tech Journalist. Blogger. Photographer wannabe. Living in dangerously beautiful Indonesia.

TwitterPlurkTumblr